Indonesia 2.0 : Kebebasan Berekspresi di Internet

Indonesia 2.0Kalo gw boleh bilang topik mengenai kebebasan berekspresi via Internet merupakan topik yang sarat akan hal-hal ‘berbau’ kepentingan rakyat. Kenapa? Karena kebebasan dalam mengemukakan pendapat itu sendiri sudah diatur oleh Undang-Undang Dasar 1945 khususnya pasal 28 yang berbunyi, “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan oleh undang-undang.” Terkesan sangat familiar bukan? Gw inget waktu SD dulu, paling sering kalo dalam ujian pertanyaan seperti, “Sebutkan isi dari pasal 28 UUD’45 beserta contoh dalam kehidupan sehari-hari?” Gw paling doyan banget dapat pertanyaan itu karena paling gampang diingat. Tapi jujur waktu SD dulu yang gw tau cuma teorinya saja tapi dalam praktek sehari-hari sepertinya nol besar! Kebebasan seperti apa yang  didapat? Setahu gw waktu zaman gw SD dulu jarang banget yang namanya demo (info : gw mengecap pendidikan SD sekitar pertengahan 90-an). Nah, kalo nga boleh demo berarti kita nga bebas dong mengeluarkan pendapat? Pikir gw waktu itu. Bukannya demo salah satu ‘media’ saat itu untuk mengekspresikan pendapat khususnya kepada pemerintah. Terlepas dari persoalan politik tempo dulu, menurut gw kebebasan waktu itu hanya slogan yang diajarkan didalam mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Bagaimana aplikasi dalam kehidupan sehari-hari? Gw yakin teman-teman pasti pada tahu jawabannya : nol …….^_^

Lain dulu lain sekarang! Kebebasan yang sempat ‘dibatasi’ dan hanya dapat dinikmati sebagian golongan akhirnya lahir kembali. Yah bisa dibilang tonggak sejarah bagi kebebasan berpendapat di Indonesia itu dimulai pada era reformasi. 

Anyway, gw  mau sharing mengenai e-book yang memaparkan secara gamblang penggunaan teknologi informasi (.red Internet) kaitannya dengan kebebasan berekspresi di Indonesia yang merupakan 100% karya anak bangsa. Dapat di download di http://linimassa.org . Menurut gw isi e-book tersebut sangat edukatif dan disusun oleh pemuda & pemudi bangsa yang kreatif. Yang menjadikan media blog sebagai ajang sharing informasi berdasarkan sudut pandang berbeda.

Kebebasan berpendapat dan berekspresi pada ‘edisi’ selanjutnya telah ber-transformasi menjadi kebutuhan yang dapat dinikmati oleh rakyat banyak. Aktualisasi dalam berekspresi juga berbanding lurus dengan kemajuan teknologi khususnya Internet. Kenapa Internet? Lha wong Internet menyediakan banyak kemudahan dan nga ribet. Untuk lebih mendalami makna Internet dalam kehidupan manusia-manusia Indonesia, gw sharing informasi mengenai penggunaan Internet dewasa ini :

Internet User in the world

Berdasarkan riset dari Miniwatts Marketing Group kawasan Asia mempunyai persentase sebesar kurang lebih 44% dari total keseluruhan pengguna Internet di seluruh dunia.

TOP Internet User in Asia

Masih dari sumber yang sama, Indonesia menduduki peringkat 4 sebagai pemakai Internet terbesar di Asia.

Pada tahun 2000-an pengguna Internet di Indonesia yang ‘hanya’ berkisar 2 jutaan mengalami peningkatan yang signifikan pada periode terakhir 2011 yang mencapai angka 39 jutaan. Bisa dibayangkan bagaimana Internet ‘bersahabat’ erat dengan Indonesia. Ditinjau dari infrastruktur yang ada, Internet di Indonesia bisa dibilang dalam tahap ‘pembangunan’. Masalah klise seperti jaringan yang belum terjangkau atau kecepatan yang masih terbatas menjadi hambatan bagi pengguna Internet itu sendiri.

Dengan semakin membudayanya Internet di semua kalangan maka aktualisasi dalam berekspresi semakin beragam. Buat yang suka nulis mungkin blog menjadi sarana alternatif untuk sharing ide dan informasi. Buat yang suka berkomunikasi via Internet dengan teman dan keluarga, social networking bisa menjadi pilihan dalam berekspresi. Pertumbuhan pengguna Internet di Indonesia yang begitu ‘menjamur’ menurut gw, nga lepas dari peranan lingkungan yang semakin padu menjadikan Internet sebagai kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari. Nah, sekarang muncul pertanyaan dalam kaitannya dengan judul postingan gw : Bagaimana kondisi kebebasan berekspresi (via Internet) di Indonesia dewasa ini? dan  Bagaimana sebaiknya pengguna Internet di Indonesia dalam mengatur dirinya sendiri?

Indonesia dan kebebasan berekspresi melalui Internet

Dalam e-book #Linimassa gw tertarik dengan tulisan dari Margareta Astaman yang berjudul “An Online Melting Pot”. Bagaimana dia berinteraksi dengan media bernama blog dalam mengekspresikan diri melalui tulisan-tulisan  yang dianggap tabu. Dianggap tabu karena sesuatu yang berhubungan dengan agama akan menjadi sesuatu yang cenderung memiliki sensitivitas yang tinggi. Tetapi dengan “ketidak-terbatasan”  berekspresi  melalui Internet via blog, menjadikan dia bisa bertukar pikiran dengan banyak orang tanpa harus merasa takut.

Hal tersebut sejalan dengan kebebasan berekspresi yang telah gw sebutin pada awal postingan ini. Banyak dari kita mungkin merasa canggung atau malah risih ketika sesuatu tidak sesuai dengan jalan pikiran kita. Media Internet yang ada menjadikan kita bebas untuk mengungkapkan ‘uneg-uneg’ yang masih menempel dalam otak. Setahu gw tipe orang dalam berekspresi itu banyak. Ada yang suka blak-blakan. Ada yang suka nyimpen dihati. Ada yang lebih suka menyampaikannya melalui tulisan. Atau malah ada yang suka berekspresi melalui tingkah pola yang lucu.

Ketika ‘Seragam’ Tidak Membatasi Kebebasan Berekspresi di Indonesia Melalui Internet

Briptu. Norman yang terkenal memalui jejaring sosial bernama : Youtube?!

Briptu Norman

^_^

Yup, semoga teman-teman tidak lupa dengan ‘demam’ Briptu Norman. Mungkin dulu merupakan hal yang sangat tabu ketika seorang polisi menunjukan ‘kreatifitas’ unik disebuah media. Dan gw rasa hal tersebut akan masuk ranah ‘tindak indisipliner’ yang menyebabkan kerugian buat bangsa. Era kebebasan berekspresi di Internet dewasa ini, mengeliminasikan perbedaan-perbedaan tersebut. Terbukti banyak orang yang suka dan ujung-ujungnya Si Briptu Norman menjadi terkenal seantero nusantara. Lagu Chaiya-chaiya jadi sering terdengar. Hal tersebut tidak terlepas dari semakin tertutupnya jurang pemisah dalam berekspresi di Indonesia melalui Internet.

Berita-berita yang paling update sekalipun dapat dikonsumsi oleh rakyat saat ini. Memberikan komen-komen melalui jejaring sosial seperti : facebook dan twitter terhadap berita yang diterima juga sudah biasa. Bagaimana berita mengenai pemerintahan? Ya sama saja. Orang-orang dengan gampangnya memberikan komen baik itu pro maupun kontra. Tidak ada ‘ketakutan’ lagi buat menyampaikan pendapat. Bahkan beberapa orang menteri dan staff bidang kepemerintahan mempunyai akun twitter khusus yang dibuat untuk ‘mendengarkan’ keluhan rakyat. Kalo menurut gw, era kebebasan berekspresi via Internet membuat kedekatan rakyat-pemerintah menjadi semakin mesra.

Menurut hemat gw, di Indonesia sendiri kebebasan dalam berekspresi di Internet sudah sangat baik. Dengan merujuk pada contoh-contoh diatas, rakyat tidak mempunyai batas sensitivitas lagi dalam menyampaikan opini. Beragam pendapat bisa disampaikan melalui media-media online yang sudah sangat lumrah dikalangan masyarakat Indonesia. Kebebasan tersebut memberikan masyarakat ruang untuk berpikir dan menyampaikan aspirasi yang gunanya buat kemajuan bangsa Indonesia sendiri. Ketika ketidakadilan terjadi ditengah-tengah masyarakat, media online menjadi sarana untuk ‘meluruskan’ kembali pemerintahan. Tidak sedikit keputusan pemerintahan yang dirasa cenderung tidak memihak rakyat dapat kembali diselamatkan melalui media online. Sebut saja ketika DPR berencana membangun gedung baru. Rakyat secara serentak menyampaikan ketidaksetujuannya melalui bermacam-macam media seperti salah satunya twitter. Wacana untuk membuat gedung baru-pun akhirnya membuat sebagian anggota dewan berpikir ulang. Walaupun belum tentu dibatalkan. ^_^v

Bagaimana sebaiknya pengguna Internet di Indonesia dalam mengatur dirinya sendiri?

Kebijakan-kebijakan yang telah diatur didalam perundang-undangan mengenai tindak pidana bagi seseorang yang melanggar kode etik dalam menggunakan pendapat di Indonesia via Internet, sepertinya tidak digubris oleh sebagaian oknum masyarakat. Gw setuju mengenai opini, “Dalam menggunakan Internet haruslah bijak.” Seringkali kebebasan yang telah diberikan oleh pemerintah menjadi kebablasan. Beberapa oknum masyarakat menggunakan kepercayaan tersebut untuk menyebarkan berita-berita fitnah, mengisi forum dengan konten-konten pornografi, sampai tindakan merusak ‘properti’ orang lain didunia maya seperti penyadapan terhadap suatu web portal (bahasa kerennya hacking website). Tindakan tersebut tentu saja bisa meresahkan sebagian masyarakat. Bahkan stabilitas suatu negara bisa jatuh akibat pemberitaan yang tidak benar.

Dan menurut gw pribadi, pembuatan Undang-Undang Internet & Transaksi Elektronika hanya dapat menakut-nakuti sebagian kalangan yang tidak bertanggung jawab. Dan sebagian lagi ‘kebal’ terhadap ancaman tersebut. Terbukti dengan berita yang gw dapat dari Kompas yang menyebutkan bahwa cyber crime di Indonesia adalah yang tertinggi didunia. (Sumber : Kompas). Nah kalo sudah begitu akan sulit mencegah wabah cyber crime di Indonesia!

Berinteraksi di Internet dengan tetap beretika bukan hanya menjadi pekerjaan rumah bangsa Indonesia. Di luar negeri juga menjadi pekerjaan pemerintah setempat dalam mensosialisasikan cara berinternet yang bijak.  Di Indonesia sendiri kebebasan berekspresi melalui jejaring sosial semisal facebook menjadi makanan sehari-hari para onliners. Facebook yang sedari awal mempunyai konsep : mendekatkan dan mencari banyak teman. Di Indonesia diplesetin menjadi : mendekatkan dan mencari banyak pria hidung belang. Hal tersebut merujuk kepada berita yang gw dapet dari web portal Surabayapagi.com. Baca artikel! Terus terang miris gw melihat kondisi seperti itu. Kalo gw pribadi sih asyik-asyik aja, tapi gimana dengan adik-adik gw yang masih kecil atau anak-anak kecil Indonesia lainnya. Ketika melihat adanya ‘prostitusi’ terselubung tersebut. Dampaknya ketika mereka sudah besar nanti.

Menyadur lagunya Armada : Mau dibawa kemana Indonesia ini? T _ T

Memang dengan adanya undang-undang tersebut diharapkan tingkat kejahatan melalui media Internet dapat ditekan. Tetapi menurut gw pribadi, pendidikan mengenai penggunaan Internet menjadi hal yang paling penting. Di Indonesia sendiri gw rasa sangat tidak familiar mengenai pendidikan etika ber-Internet. Dan saran gw ke pemerintah adalah membuat kurikulum mengenai pemanfaatan dan penggunaan Internet yang beretika. Sehingga bisa menumbuhkan kesadaran pengguna Internet di Indonesia bahwa Internet seperti halnya kehidupan sehari-hari, mempunyai aturan main dan etika yang harus dijalankan. Tetapi semua itu balik lagi ke pribadi orang yang mengaku pengguna Internet. Harusnya setiap pengguna menanamkan konsep didalam diri masing-masing bahwa : Internet merupakan wadah untuk mencari dan sharing informasi dalam batasan etika yang santun.

Tagged , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: