Politik Lucu di Negeri Acakadut

Raja Untuk DemokrasiTersebutlah suatu negeri yang indah dan menawan. Menarik banyak hati orang untuk mengunjunginya. Negeri yang kaya akan budaya, sumber daya alam, dan keindahan alamnya. Nga banyak negeri didunia yang bisa mendapatkan kelimpahan rezeki seperti itu. Masyarakatnya yang ramah dan berbudaya semakin memberi kesan eksotis negeri ini.

“Mas, sudah pernah berkunjung ke negeri acakadut?” Tanya seorang bapak setengah baya (gw sebut seperti ini karena rambut putih telah banyak melingkari kepalanya). “Saya belum pernah pak, tapi pengen juga sih.” “Kata orang negeri acakadut itu seperti surga-nya dunia ya Pak?” Bales gw ke bapak tersebut. Bapak tersebut hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. “Yah seperti itulah negeri acakadut!” “Lho, kenapa bapak tadi geleng-geleng kepala?” Tanya gw heran. “Saya cuma membayangkan seandainya negeri acakadut yang indah itu tidak hanya dari luarnya saja. Tapi dalam-nya juga indah dan menawan!” Wah terus terang gw semakin nga ngerti arah pembicaraan bapak ini. “Maksud Bapak?” Tanya gw. “Gini lho Mas, negeri yang Mas tadi agung-agungkan (.red Acakadut) itu nga seperti itu. Banyak hal-hal yang tidak semestinya terjadi di negeri itu!” “Berarti Bapak sudah pernah ke negeri itu dong?” “Saya sudah puluhan tahun hidup di negeri itu Mas!” Semakin membuat gw ingin bertanya lebih jauh…….

“Berarti Bapak sudah banyak tahu dong bagaimana negeri itu?” Tanya gw penasaran. “Bukan hanya tau Mas, saya juga pernah menjadi korban dari negeri itu!” Jawab bapak tersebut sambil menghidupkan sebuah batang rokok bermerk D*arum. “Kok bisa Pak?” Tanya gw sambil mengeluarkan sebuah permen untuk dimakan. “Politik di negeri acakadut sungguh sangat kronis dan berbahaya! Politik sudah memakan banyak nyawa. Semua orang yang bergelut didalamnya hanyalah diktator yang berkedok kerakyatan! Banyak kasus-kasus hukum diputarbalikan, yang berkuasa semakin membabi-buta, yang miskin semakin memkambing-buta!” Seloroh Bapak tadi dengan tegas. Gw hanya terdiam dan memberhentikan sistem pengunyahan permen gw. Gw jadi ingin tau lebih dalam mengenai informasi ini. “Kayaknya semakin menarik nih! Bisa diteruskan Pak?” Gw dengan sedikit memaksa untuk diceritakan layaknya anak kecil yang mau didongengin sama orang tua.

Bapak tadi menyandarkan pundaknya di kursi tempat kami duduk. “Saya takut menceritakan lebih detil lagi Mas!” Saya takut kalo Mas ini ternyata mata-mata! Sambil tersenyum. “Ah Bapak, nga mungkin saya mata-mata. Lha wong saya saja bukan siapa-siapa dan nga ada kepentingan dengan negeri acakadut!” Sembari melemparkan senyuman balik ke Bapak tadi. “Mas tahu-kan sepak bola? Di negeri acakadut sendiri, Persatuan Sepak Bola Seluruh Acakadut atau yang biasa disebut PSSA sedang rusuh. Untuk memilih ketua umum-nya saja susahnya minta ampun. Arena politik telah masuk kedalamnya. Yang dulu waktu saya tingga di negeri itu, untuk pemilihan ketua umumnya ndak seribet sekarang ini. Yah, mungkin karena timnas-nya waktu pagelaran Piala Acakadut Bersatu meraih simpati rakyat yang luar biasa. Mereka menjadi nomor satu dan juara. Dengan status sebagai juara tersebut maka kepercayaan rakyat terhadap PSSA semakin besar. Ujung-ujungnya semakin merefleksikan kemampuan para politikus busuk untuk mulai curi start di Pemilihan Raja di negeri acakadut. Hubungannya jelas Mas, jabatan ketua umum akan memberikan jalan mulus untuk partai yang mendukungnya. Sehingga percaya nga percaya, bisa memberi peluang untuk agenda pemilihan raja selanjutnya. Belum lagi kasus-kasus hukum yang melibatkan Raja dan para Patih-nya. Semua semakin buram dan ndak jelas. Pengalihan isu merupakan senjata utama untuk melanggengkan kekuasannya. Rakyat jelas menjadi korbannya. Orang jujur yang ingin berkata jujur-pun ndak lepas dari sorotan Sang Raja. Bila perlu dijebloskan saja ke penjara. Biarpun ndak ada sangkutan dengan suatu kasus, bisa saja dengan dalih politik orang jujur tersebut menjadi ‘sang terpidana’.  Politiknya kalau boleh saya bilang adalah politik lucu. Sang pelawak bermain dengan lawakannya untuk menjatuhkan ‘orang’ terentu biar bisa menjadi bahan lawakan yang akan di-applause oleh banyak orang. Kasus yang seharusnya menemui jalan keluar, ditutupi sedemikian rupa sehingga Sang Raja ndak terkena getahnya.” Pungkas Bapak tersebut dalam penjelasan yang lebar dan panjang.

Gw terbujur kaku dan nga ngerti maksud yang tersirat. Hal tersebut erat kaitannya dengan volume otak gw yang sedang-sedang saja. Dengan semangat menggelora layaknya suami yang baru menikah dimalam pertama, Si Bapak kembali bercerita. “Menurut saya pribadi Mas, semua raja di negeri acakadut itu ndak ada yang ber-integritas. Semua-nya memakai topeng saat pemilihan raja berlangsung. Didepan para rakyat mereka seakan pro. Kalau dinilai dari tingkat pembangunan di negeri acakadut, saya harus angkat topi. Pembangunnya luar biasa cepat. Di negeri kita aja kalah Mas! Tapi kalau yang menjadi tolak ukur adalah kesejahteraan rakyat, saya bisa katakan bahwa hasil kerja para raja-raja terdahulu maupun yang sekarang di negeri acakadut adalah nol besar. Masih aja ada sekolahan yang beratapkan langit, balita yang menderita busung lapar, lapangan kerja yang dimonopoli oleh orang-orang tertentu, dan lain sebagainya. Ndak heran banyak orang-orang pinter di negeri acakadut yang bermigrasi ke negeri kita Mas! Terus yang paling saya soroti adalah pelayanan publik yang amburadul. Ndak terorganisir. Bahkan untuk pemilihan raja saja menggunakan sistem manual. Padahal saya denger mereka sempat membeli perangkat lunak yang cukup mahal. Kebobrokan sistem pemerintahan di negeri acakadut sudah mencapai titik nadir. Berbagai dalil seperti reformasi-pun sempat didengunkan. Tapi apa dampaknya bagi rakyat? Ndak ada Mas. Yang ada rakyat makin melarat. Ndak heran walaupun sepertinya negeri acakadut itu damai tapi dalamnya sudah kronis. Seperti yang saya bilang tadi Mas : indah hanya diluarnya saja. Hal yang paling hakiki untuk memperbaiki pemerintahan di negeri acakadut itu gampang kok Mas. Cuma satu solusi bijaknya yaitu kembali ke pengertian kepemerintahan itu sendiri. Pengertian itu adalah para raja dan patihnya harus mengayomi rakyat-nya. Kasarnya sebagai pembantu rakyat. Nah sekarang ini di negeri acakadut pengertian pemerintahan itu berbeda : rakyat yang harus mengabdi ke pemerintah. Apapun keputusan yang merugikan, rakyat harus nrimo dengan lapang dada. Rakyat di negeri acakadut sudah capek Mas untuk hidup seperti itu. Alih-alih perbaikan hidup, nyatanya penurunan kualitas sumber daya manusia pada akhirnya. Saya sedih Mas! Walaupun bukan penduduk atau rakyat di negeri acakadut, tetapi saya pernah tinggal dan mencari nafkah disana.” Jelas Bapak tersebut dengan mimik wajah serius!

“Maaf Mas, dari tadi mendengarkan ocehan saya terus!” Sambung Bapak tersebut lagi-lagi dengan senyuman. “Oalah Bapak, kenapa minta maaf. Bagus banget kok penjelasan Bapak tadi. Nambah ilmu dikit saya….hehehe” Sambut gw dengan penuh senyuman. “O iya Mas, saya mau ke toilet dulu yah!” Bapak tadi meminta izin ke gw. “Oh, iya pak lanjut aja!”

Setelah 30 menit gw tunggu kok nga ada muncul lagi yah bapak itu. Gw beranikan diri untuk menyusul ke toilet tersebut. Anehnya nga ada sama sekali bapak itu. Gw tanyain ke penjaga toilet, “Mas liat bapak setengah tua nga tadi kesini?” “Maaf Mas dari tadi nga ada orang ke toilet, karena toiltenya sendiri baru dibenerin.” Kaget gw denger jawaban dari mas-mas penjaga toilet. Busyet siapa yah bapak tua itu? Tanya gw didalam hati. Apapun yang itu, gw seperti mendapat ilmu baru dari orang tak dikenal tersebut. Bahkan nama saja gw nga tau. Tapi yang paling penting bagi gw adalah : Untung negeri gw nga seperti yang diceritakan diatas…..^-^V

*Penulisan kali ini tidak dimaksudkan untuk menyindir suatu ‘negara’ maupun ‘orang’ tertentu.

Tagged , , , ,

One thought on “Politik Lucu di Negeri Acakadut

  1. Story added…

    Your story was featured in Populerkan.com! Here is the link to vote it up and promote it: http://populerkan.com/node/5545

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: