Balada Tukang Tambal Ban Tradisional

Strata sosial terkadang membuat orang cenderung bersikap ‘sebelah mata’ bagi sebagian orang yang berprofesi ‘tidak layak’. Profesi ‘layak’ bagi orang-orang tertentu memiliki stereotype : berdasi, rambut klimis, bersepatu mengkilat dan pakaian bermerk. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian dari kita terkena ‘virus sosial’ yang cukup mematikan identitas kita sebagai bangsa yang tidak memandang seseorang dari suatu profesi tertentu.

Profesi-profesi yang identik dengan sesuatu yang ‘kotor’ seperti: tukang sampah dan tukang tambal ban tradisional dalam struktur masyarakat modern menempati ‘kasta’ yang paling bawah. Hal tersebut erat kaitannya dengan budaya hedonisme yang memandang sesuatu dilihat dari seberapa kaya orang itu atau merk-merk apa saja yang dipakai. Man, jelas itu bukan sesuatu yang layak dijadikan acuan buat menghargai seseorang. Apakah kita pernah melakukan pendekatan seperti bertanya tentang keluarga mereka atau membalas senyuman mereka dengan sumringah ketika ban motor/mobil yang kita kendarai bocor? Mungkin sebagian dari kita pernah dan sebagian lagi tidak memperdulikannya. Tapi berbeda apabila yang kita hadapi (walaupun baru kenal) adalah orang yang berdasi dan memakai atribut ber-merk. Kita akan tertawa lepas atau bahkan bertanya mengenai keadaan keluarga yang bersangkutan dalam ‘sesi tanya-jawab’. Memang kita mengharapkan suatu ‘imbalan’ tertentu bila bisa berkenalan dangan mereka. Imbalan yang dimaksud bisa saja seputaran bisnis atau lowongan pekerjaan. Dan kita mengangap mereka itu ‘sekelas’ dengan kita. Guys, kita terkadang salah dalam menilai orang. Kita tidak tahu apabila orang yang kita anggap ‘sekelas’ itu ternyata hanya penipu kelas tikus asoy kw 1.

Dampak yang akan timbul adalah ‘gap’ yang cukup lebar antara satu dan lainnya. Seandainya kita tidak membeda-bedakan profesi dari seseorang, gw yakin kita bisa saling sharing dengan mereka. Bro/sis, terkadang pelajaran hidup nga selalu bisa kita dapat dari orang-orang yang mempunyai profesi kelas satu. Tapi bisa juga didapat dari orang-orang yang berprofesi kelas sekian didalam pikiran kita.

# 05-Mei-2010, 14:00 WIB

Waktu yang gw sebutin diatas, tanpa disengaja ban motor gw bocor. Lumayan 2-3 km mencari kesana kemari tukang tambal ban. Dan akhirnya gw nemuin satu tempat tambal ban. Deskripsi dari tempat tersebut seperti jamaknya tambal ban yang ada di seluruh penjuru negeri ini : penuh dengan oli, ban-ban bekas, tambal-ban press, kompresor, dll. Gw pun minta untuk ditambal ban motor gw dengan segera karena cuaca yang sungguh sangat tidak bersahabat. “Mas, kok kayak orang bingung gitu?” Tanya si tukang tambal ban membuka perbincangan dg gw waktu itu. “Ah biasa aja. Mungkin bawaan cuaca yang panas kali yah (emang waktu itu cuaca panas-nya luar biasa!)”, jawab gw! Si tukang tambal ban hanya tersenyum melihat keringat gw yang segede biji kacang dua kelinci. Gw pun memberanikan diri untuk bertanya lebih lanjut. Karena gw pikir dan gw liat orangnya cukup bersahabat. “Bang, banyak objekan yah tiap hari?” Si Abang-pun membalas, “Yah, lumayan-lah mas. Nga tentu juga.” Sekitar 20-30 detik hening…..Dia lalu bercerita. “Terus terang saya sudah punya 3 anak. Yang satu sudah SMP dan yang dua lagi masih SD. Biaya hidup makin hari makin naik. Program pemerintah juga semakin nga jelas. Katanya mau memberantas kemiskinan. Yang ada malah harga barang kebutuhan semakin naik. Nah kalo saya mau naikan harga tambal ban, imbasnya bakalan banyak orang yang nga mau ketempat saya lagi. Saya jadi bingung.” Gw pun jadi semakin pengen tau ceritanya. “Bang, maaf nih kalo boleh tau omset per-hari berapa yah?” Si Abang kembali tersenyum (bukan orang gila lho yah bro/sis ^-^)…”Rata-rata pendapatan kotor saya per-hari kurang lebih Rp 40.000,-. Kalo dihitung rinci-nya sih bayar retribusi kebersihan sebesar Rp 5.000,- terus retribusi keamanan kurang lebih Rp 10.000,-. Jadi total setiap hari saya harus mengeluarkan Rp 15.000,-. Belum lagi ditambah biaya pengeluaran untuk beli bahan bakar buat kompressor + uang makan + biaya kontrakan rumah kurang lebih 130.000/bulan + bensin motor (karena rumah si abang katanya jauh dari tempat ‘usaha’ tambal ban-nya). Sehari saya bersih dapat kurang lebih Rp 10.000,-.” Gw kaget bgt! “Emang cukup yah bang buat ngisi pos-pos kayak biaya SPP anak, biaya makan keluarga gitu?” Si Abang jawab, “Kalo mau diturutin sih mas pastinya nga cukup!”

Sekedar hitung2-an dari gw nih : Dengan pendapatan bersih kurang lebih 10.000. Berarti dalam sebulan jika diasumsikan pendapatan tersebut konstan, si abang dapat penghasilan 300.000. Jika gw kurangi dengan pengeluaran ‘wajib’ per-bulan : Biaya SPP anak 3 orang : Rp 60.000 (asumsi @anak uang SPP-nya 20.000) + Biaya kontrakan rumah 130.000 + Biaya makan keluarga 450.000 *(asumsi gw setiap hari untuk beli lauk pauk yang paling minimal untuk 5 orang adalah 15.000). Dan hitung-hitungan gw bakalan nemuin hasil (-) negatif.

Catatan : *Biaya beli lauk-pauk yang gw rasa udah sangat amat sederhana dengan komposisi makanan kayak tempe, tahu, sama telur goreng. Atau yang lebih ekstrem indom*e. Guys, this is Batam! Biaya hidup bisa dibilang mahal.

Mungkin karena gw bodoh di matematika atau gimana, tapi gw rasa hitung2an tadi sudah lumayan akurat dengan berbagai asumsi yang juga sudah amat minimalis. God is The Best Mathematician! Sumpah, hitungan Tuhan luar biasa! Yang kalo gw hitung (-) bisa jadi (+). Gw nyerah dan gw hanya bisa ngucap syukur! Bisa dibanyangkan dengan pendapatan yang minimal seperti itu, Si Abang tukang tambal ban tadi bisa tetep eksis dan selalu tersenyum. “Mas, kita sebagai manusia harus bersyukur dengan apa yang dikasih Tuhan. Kita harus terus berusaha untuk mengejar rezeki yang disebar oleh Tuhan. Walaupun saya miskin seperti ini tapi saya berusaha untuk selalu tidak berhutang dengan orang. Biarlah saya susah makan, yang penting anak sama istri bisa makan! Kadang saya juga pura2 bilang ke istri kalo saya sudah makan tadi. Padahal belum makan mas.” Gw terdiam dan gw berkata dalam hati, “Ini baru the true hero!”

Moral value yang bisa gw ambil adalah selalu bersyukur dengan apa yang dikasih oleh Tuhan. Mengeluh terkadang hanya membuat keadaan lebih buruk. Seperti abang tukang tambal ban tadi, dia tahu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan profesi yang ada bisa dibilang sulit. Tapi dia nga pernah mengeluh. Dia selalu optimis. Selalu bersyukur. Karena hitung-hitungan Tuhan itu lebih luar biasa dari yang manusia bisa. Bayangin aja yang menurut kita negatif bisa aja jadi positif. Hanya bagaimana kita menyiasati keterbatasan tersebut dengan selalu berusah dan berdoa. Toh hasilnya memang nga sim salabim jadi kaya. Tapi butuh pengorbanan untuk itu. Gw yakin kalo abang tambal ban tadi mungkin rezeki-nya bisa didapat dari anak-anaknya kelak sebagai orang yang berhasil. Amin…..

Solusi yang bisa gw sharing hanya satu. Seperti pada bacot gw diatas, kita haruslah peka terhadap saudara-saudara kita yang masih membutuhkan. Kita bisa memberi bantuan dengan hanya menghargai mereka. Peduli dengan mereka. Toh tanpa bantuan materi dari kita mereka masih bisa eksis. Tapi memang yang lebih baik adalah kesadaran dari kita untuk mengulurkan tangan dan memberi bantuan yang dibutuhkan. Caranya? Gampang, jangan membeda-bedakan profesi seseorang! Gw juga nga nyaranin buat tiap hari ban kendaraan kita bocor ^-^V.

Tagged , , , ,

9 thoughts on “Balada Tukang Tambal Ban Tradisional

  1. Wong Cilik says:

    Nice Post..Ijin Copas

  2. yanet says:

    menyukai ini.
    Izin share y, bro..🙂

  3. Sip Sister….Lanjut….^-^

    Anyway thank you udah sudi dateng ke sini ye…. =:-)

  4. tajuddin says:

    Keren Gan Critanya . . .

  5. wiryo says:

    akhirnya ada juga yang bercerita tentang tukang tambal ban secara positif, sementara yang lain hanya menuduh ini itu berdasar prasangka.

    • Iya mas bro. Kita sering bgt menilai orang dari sebagaian ‘oknum’. Tetapi nga pernah melihat secara keseluruhan….Ini memang cerita asli dari pengalaman gw. Yah gw sampaikan jujur apa adanya….heheh
      Anyway tks udah sudi mampir yah mas bro….^_^v

  6. Baca ini lagi… suka lagi…

    Hero apa kabar? Udah lama kita nggak tegus sapa, ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: